Tampilkan postingan dengan label CAAS - (1) - BAWANG MERAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CAAS - (1) - BAWANG MERAH. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Oktober 2014

CAAS - (1) - BAWANG MERAH

CAAS - (1) - BAWANG MERAH
(Trilaksito Saloedji)

Hari Minggu ini tidak dapat  kunikmati berdua dengan isteriku. Sejak pagi tadi, dia pergi bersama ibu-ibu ke Surabaya. Sebagai pengurus paguyuban ibu-ibu di instansi ini, setiap bulan sekali belanja untuk  ‘’meja penjualan’’ organisasinya.

Setelah berolah raga sampai pukul 09.00, aku pulang. Ketika masih di dalam kamar mandi ada suara heboh di luar. Terdengar suara lelaki, lalu pembantu perempuan menangis. Ada apa gerangan? Aku cepat keluar. Mbok Djum sambil menangis berkata, bahwa anaknya di daerah Jember meninggal.
‘’Siapa yang memberi kabar?’’, tanyaku.
‘’Ini adik saya’’.

Setelah Mbok Djum pergi dengan adiknya, lengkaplah keheningan di rumah ini. Aku masuk dapur. Kompor dalam keadaan mati. Kembali ke ruang dalam. Di meja makan tersaji : sepiring tempe goreng, sepiring tahu goreng dan seekor bandeng goreng. Rupanya Mbok Djum belum sempat membuat sayur dan sambal kesukaanku.

Perut sudah lapar. Membuka lemari makan dan kulkas. Mencari sesuatu yang bisa menambah selera makan. Maksudku lalapan (semacam mentimun, kacang panjang, selada) dan sambal. Tiada sesuatu pun. Malahan aku bersin beberapa kali. Alhamdulillah. Rasanya badan letih, seperti mau flu.

Ingat ketika dijamu makan di rumah Mas Parto beberapa bulan yang lalu. Aku melangkah ke dapur, mengupas beberapa butir bawang merah. Mencucinya, lalu kuiris-iris. Jadilah ‘’sambal kecap irisan bawang merah’’.

Aku makan, lahap sekali. Kenikmatannya diiringi suara bawang merah yang beradu dengan gigiku. Pedasnya membuat badanku berpeluh.

Ketika aku duduk nonton teve, ingat pembicaraan di rumah Mas Parto.
‘’Mas begitu suka dengan sambal kecap irisan bawang merah ini’’

‘’Ya, selain sebagai pelengkap lauk, bagiku dapat meningkatkan daya tahan tubuh’’.*
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...