TESTIMONI
(Trilaksito Saloedji)
Setelah dinas di daerah berpuluh-puluh tahun, akhirnya aku
dimutasi ke Surabaya .
Bekas rumah dinas yang kutempati bersama keluarga, kabarnya akan ditempati Pak
Djaya sejawatku.
Tiga bulan kemudian Pak Djaya dimutasi ke Surabaya . Meskipun dia ditempatkan di bagian
lain, tetapi tinggal di Mess yang sama. Sehingga tiap hari bisa ketemu, kemanapun
kami pergi selalu bersama-sama. Suatu malam dia berkata :
- ‘’Pak Tri, bekas rumah dinas Pak Tri yang saya tempati itu
sebenarnya enak. Hawanya sejuk, penuh kedamaian. Tanaman buahnya banyak.
Terutama pisang, sampai berlebihan dan diantar ke tetangga’’
- ‘’Syukurlah Pak Djaya, yang saya rasakan pun demikian
juga’’
- ‘’Sebenarnya saya sekeluarga masih kerasan di sana , tetapi mau apa.
Kalau dimutasi ya harus berangkat’’
- ‘’Ya begitulah, namanya karyawan harus siap ditempatkan di
manapun juga’’.
Rupanya kenangannya terhadap rumah dinasnya masih membekas,
katanya :
- ‘’Rumah itu selain sejuk dan penuh kedamaian juga
‘ngrejekeni’ (mendatangkan rezeki)’’.
- ‘’Ah masak, kok Pak Djaya bisa berkata seperti itu ?’’,
tanyaku.
- ‘’Betul Pak, selama saya di sana mendapat kiriman salak satu keranjang
dan jeruk keprok satu keranjang’’.
- ‘’Dari siapa
?’’, aku bertanya karena penasaran.
- ‘’Yang mengantar hanya bilang untuk Bapak sekeluarga di
rumah dinas ini’’
- ‘’Oo begitu’’. Pikiranku
lalu berkelana. Baru ingat kenalan baikku di Klampokarum (yang punya kebun salak)
dan yang di Kedungrejo (yang punya kebun jeruk) pernah bilang :
- ‘’Kalau panen akan saya kirimi Pak Tri’’. Tetapi ketika
aku pindah ke Surabaya
tidak sempat pamit ke rumah mereka atau memberi kabar. Setelah kami berdua diam
cukup lama, aku berkata :
- ‘’Mungkin kenalanku yang di Klampokarum dan di Kedungrejo
yang mengirim salak dan jeruk itu’’. Pak Djaya melongo dan berkata pelan :
‘’Jadi itu semua untuk Pak Tri ?’’. Seperti terbangun dari tidurnya, dia
kemudian menyatakan permintaan maaf. Akupun memaafkan dan terimakasih atas
‘’Testimoni’’-nya.*