Rabu, 02 April 2014

MALANG TEMPO DOELOE dalam CERITA (1) 

OPAS TROTOIR
(Trilaksito Saloedji)

Rumah seorang temanku di bilangan Kayutangan gang 5.  KAYUTANGAN adalah nama jalan yang sangat lebar (waktu itu) yang membelah jantung kota MALANG. Ada jalan trem juga di atasnya. Sekarang jalan itu diganti namanya menjadi Jalan BASUKI RACHMAT (Mantan Menteri Dalam Negeri zaman Orla).

Kakeknya pernah cerita, bahwa TROTOIR di pinggir jalan itu sangat bagus, lebar dan bersih. Dibuat dari pasangan tegel yang tidak licin di kala hujan. Seorang Opas (mungkin sekarang Satpol PP) ditugaskan menjaga keamanan dan ketertibannya. Opas itu sangat disiplin. Pokoknya trotoir adalah tempat untuk orang berjalan kaki. Tiada ampun, bila ada yang mencoba naik sepeda di atasnya, atau ada yang membuang kotoran/sampah. Tiada satupun pedagang kaki lima yang menjarah keberadaannya. Keadaan waktu itu betul-betul TERTIB, BERSIH dan INDAH.

CATATAN : Kera ngalam – Sam Didik Sunardi, sam Mas Bambang Setiyono, sam Widya Primandaru dkk,  dan semuanya saja yang belum saya sebut di sini - ;   saya ajak untuk menggali cerita seputar :  MALANG TEMPO DOELOE.

Minggu, 08 Desember 2013

Cerita Ada-Ada Saja : PAK DHE YON

PAK DHE  YON
(Trilaksito Saloedji)



Sore itu anak-anak kami bermain di halaman depan. Aku dan istri di ruang keluarga. Menjelang maghrib terdengar anak-anak berlari dari ruang tamu. Mereka menghampiri kami berdua. Napasnya terengah-engah. Kakaknya bertanya : ‘’Ma, Mama pernah bilang, Pak Dhe Yon kan sudah meninggal ?’’. Jawab istriku :’’Ya benar, ada apa ?’’. Istriku heran, memandang anak-anak. Tidak sabar menunggu jawaban yang tak kunjung terdengar.
‘’Pak Dhe Yon ……ada di muka’’, terdengar suaranya merendah. Dia berusaha mencari posisi berdiri di belakang tempat dudukku. Istriku bangkit dari kursi. Wajahnya tegang. Aku segera bergegas ke ruang tamu. Diikuti istri dan anak-anakku.

Seorang laki-laki bertubuh tinggi dan besar nampak di teras, mengucapkan salam :Assalamu’alaikum’’. Jawabanku :’’Wa alaikum salam’’.
Di luar, suasananya mulai remang-remang. Setelah jaraknya sekitar tiga meter baru terlihat siapa lelaki yang mengaku bernama Pak Dhe Yon kepada anakku.

‘’Mas Yon……..’’, aku menghambur ke teras. Menyalami tangannya dan merangkulnya. Kami berdua tertawa gembira. Sampai lupa bahwa di belakangku ada istri dan anak-anakku.
‘’Oo hiya Ma, ini Mas Yon yang pernah kuceritakan’’.
Istriku menyambut uluran tangannya sambil tersenyum. Kata Mas Yon :’’Maafkan Mas tidak menghadiri pernikahan adik. Waktu itu Mas sekeluarga masih dinas di Gorontalo’’.
Istriku menjawab :’’Tidak apa-apa Mas’’. Aku menyela :’’Ya hampir sepuluh tahun kita tidak bertemu. Oo hiya Mas Yon, ini anak-anakku’’. Mas Yon tersenyum, menyambut uluran tangan anak-anakku. Lalu mencium pipi mereka.
Anakku yang besar nyeletuk : ‘’Kata Mama, Pak Dhe Yon sudah meninggal ?’’
‘’Oo….ya….’’, Mas Yon tertawa sambil menoleh kepadaku. Mungkin ingin tahu masalahnya.
Aku menerangkan : ‘’Begini….., kakak Mamamu namanya Pak Dhe Yon …..Harjono. Sekarang sudah meninggal’’. Anak-anakku mendengarkan sambil tak lepas memandang aku.
‘’Lalu Pak dhe Yon yang ini……, kakaknya Bapak. Jadi Pak dhe ini Pak dhemu juga. Namanya Pak Dhe Wiyono’’
Dari mulut kecil anak-anakku terdengar : ‘’Oo begitu…. ‘’.

Cerita Ada-Ada Saja : HARGA BERAS

HARGA BERAS
(Trilaksito Saloedji)





Kakek Darmin bersama istrinya menghuni sebuah rumah yang besar di sebuah kota kecil.
Bagi orang-orang setua kakek dan nenek, kebahagiaan terbesar adalah jika dikunjungi anak cucunya.  Suasana itu datang jika Hari Raya Fitri  menjelang. Mereka datang dari beberapa kota yang jauh.

Kegembiraan dan keceriaan mewarnai seluruh isi rumah itu. Cerita dan gelak tawa seolah telah menghapus sepi yang selama ini dirasakan kakek nenek tersebut.
Kakek Darmin kembali bergairah. Banyak bicaranya. Ada saja yang ditanyakan kepada anak-anak dan menantu-menantu serta cucu-cucunya.

Suatu siang ketika mereka berkumpul di ruang keluarga, Kakek Darmin bertanya kepada putrinya yang bernama Nita : ‘’Berapa harga beras di kotamu Nit ?’’ 
‘’Ya macam-macam Pak. Beras yang enak di atas sembilan puluhan. Yang sedang sekitar delapan puluhan’’, jawabnya.  
Kemudian Kakek melontarkan pertanyaan yang sama kepada seorang menantunya. Nenek dan anak-anak serta menantu yang lain heran. Dan tidak menyangka ketika Sang Kakek menyatakan pendapatnya :

‘’Wah mahal amat harga beras di kotamu’’
‘’Kalau di sini berapa Pak?’’
‘’Murah……….. hanya dua ribu rupiah’’
‘’Ah masak ? Bapak tentu bergurau.’’, Nita meledek bapaknya
‘’Mungkin itu beras Raskin ya Pak’’, menantu yang lain tidak percaya.
‘’Bukan’’
‘’Lha beras apa ?’’, tanya Nita.
‘’Beras ……kencur’’

Yang hadir di situ tersenyum. Tidak ada yang berani membantah.

Rabu, 20 November 2013

Dari Jalanan (01) PENYEBERANGAN JALAN

Dari Jalanan (01)

PENYEBERANGAN JALAN
(Trilaksito Saloedji)

Aku jalan pagi. Pukul 07.30 sudah sampai di muka Rhien Tailor. Di sebelah kirinya ada bengkel tambal ban motor/mobil. Seorang anak muda yang cukup ganteng sedang mengisikan angin ke dalam ban motor. Setelah selesai aku bertanya.        
- Mas, Rhien Tailor bukanya pukul berapa ya ? -
- Pukul delapan Pak, silakan duduk sambil menunggu –, jawabannya cukup simpatik.
Aku duduk di bangku panjang. Setelah melayani keperluan orang yang singgah di bengkelnya, dia duduk di sebelahku. Disalami tanganku sambil menyebutkan namanya : - Doni –
Aku pun menyebutkan namaku.

- Tempat usaha Mas sangat strategis -
- Begitulah Pak. Memang sayang kalau usaha bengkel ini tidak diteruskan. Dulu dikelola ayah saya. Setelah tua dan ingin beristirahat, ayah menelepon saya -
- Don, ayah mau istirahat kerja. Kamu mau pulang dan meneruskan bengkel ini, atau tempat usaha ini dijual saja ? -

Aku menyela : - Mas saat itu di mana ? -
- Di Malaysia. Sudah tiga tahun bekerja di percetakan -
- Lalu ? -
- Saya pulang sampai sekarang -
- Mungkin ada pengalaman yang berkesan waktu merantau ? -

Dia diam sejenak lalu tersenyum.
- Ada Pak. Bapak lihat di jalan ini. Banyak orang menyeberang jalan, di banyak tempat. Kesannya tidak teratur atau tidak diatur, atau tidak ada peraturan -, dia lalu melanjutkan :
- Suatu hari saya menyeberang di sebuah jalan di Kualalumpur. Saya pikir jalan lengang. Saya menyeberang, santai saja. Hampir sampai tepian seberang jalan, saya mendengar suara seorang lelaki berteriak keras sekali, sambil menuding saya. Orang itu di atas jembatan penyeberangan yang jaraknya sekitar lima puluh meter dari saya. Saya tunggu di tepi jalan. Apa maunya dia.
Setelah berhadapan, saya bertanya : - Ada apa Makcik ? Lelaki setengah baya itu memarahi saya dengan bahasa dan dialek sana :
- Kamu mau mampus ya. Kalau menyeberang jalan lewat jambatan penyeberangan ! -

Kemudian Doni mengungkapkan isi hatinya : - Kita seharusnya belajar disiplin –
Aku menimpali : - Disiplin di segala bidang, dan memupuk kesadaran untuk mentaati peraturan -  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...