Rabu, 02 April 2014

MALANG TEMPO DOELOE dalam CERITA (5) 

PECEL MBEBEKAN
(Trilaksito Saloedji)

Sekitar akhir dasawarsa limapuluhan dan awal dasawarsa enampuluhan,  “Mbebekan” menjadi terkenal. Mbebekan adalah nama sebuah pedukuhan. Letaknya di sekitar Jalan Langsep Malang.

Terkenal karena mempunyai kekhasan. Yaitu Pecel Mbebekan. Sayurannya adalah “semanggi” dan kecambah (taoge). Beberapa ibu-ibu menjajakan dagangannya dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung.

Dagangannya ditempatkan di bakul dan semacam baki di atasnya. Bakul dan baki tersebut “disunggi” di atas kepalanya yang diberi alas kain tebal.

Sebagai kelengkapan pecel, dijual “dadar jagung” yang dibuat tipis melebar seperti “rempeyek kacang”.*

MALANG TEMPO DULU dalam CERITA (4) 

LAMBAUW
(Trilaksito Saloedji)

Kebanyakan orang mengenal dan menyebut LAMBAUW,  atas sebuah kawasan di Jalan Tanjung Malang. Kawasan itu luasnya lebih dari 30 Hektare. Sejak tahun 1927 dijadikan Sekolah Pertanian (Cultuur shool/CS). Pada jaman Jepang dinamakan SPMT (Sekolah Pertanian Menengah Tinggi). Setelah Kemerdekaan, menjadi SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas Negeri).

LAMBAUW adalah istilah “kaprah” dari kata yang benar dalam bahasa Belanda yaitu LANDBOUW yang artinya : Berladang/Berkebun. Kawasan itu terdiri dari bangunan gedung, lapangan sepak bola dan volley-bal, serta lahan untuk bercocok tanam yang cukup luas.
Bangunannya terdiri dari gedung sekolah (ruang sekolah dan  kantor), ruang olah raga, aula, asrama (putra dan putri), perumahan guru, gudang dan gudang alat-alat pertanian, garasi dan bengkel (traktor dan alat-alat pertanian), serta green-house. Ada juga sebuah ruang terbuka untuk penggilingan tebu.

Lahan pertanian ditanami tanaman keras dan tanaman semusim. Tanaman keras meliputi :
tanaman kopi, karet, kelapa sawit, kina, coklat. Tanaman semusim terdiri dari padi, jagung, tebu, kacang tanah, ubi jalar. Serta tanaman buah-buahan, antara lain jeruk, semangka
Ada juga kebun bunga dan anggrek yang ditanam di green-house.

Tempat pendidikan pertanian itu telah melahirkan ahli-ahli pertanian yang mengabdikan dirinya  di pemerintahan dan swasta. Beberapa diantaranya ada yang menjadi pejabat tinggi antara lain Menteri Pertanian pada jaman Orde Baru.

Sangat disayangkan mulai akhir abad ke 20, kita tidak dapat menemukan LAMBAUW  lagi.  Kawasan hijau yang bisa menjadi penyerap air itu, telah di-alih fungsikan menjadi kawasan perumahan elite. Kita tidak dapat menemukan “cagar sejarah” yang menandai KOTA MALANG sebagai KOTA yang INDAH. * (bsl, 24/02/14).

MALANG TEMPO DOELOE dalam CERITA (3) 

GRABAH  NJENGGRIK
(Trilaksito Saloedji)

GRABAH adalah barang-barang keperluan rumah tangga atau barang-barang untuk hiasan, yang terbuat dari tanah. Antara lain kendi yaitu tempat air untuk minum, kuali adalah tempat menjerang air, gentong ialah tempat menyimpan air, dandang adalah tempat menanak nasi, layah berbentuk bulat datar semacam piring, asbak tempat puntung rokok, dan lain-lain. Tanah yang dipakai sebagai bahan baku adalah tanah liat / lempung.

Alat yang dipakai cukup sederhana. Berupa kayu datar dan bundar yang bisa diputar, bertumpu pada alat lain di bagian bawah. Tanah lempung yang sudah ‘’diolah’’, dibentuk di atas kayu bundar datar tersebut sembari diputar, menjadi barang yang direncanakan.

Barang-barang yang sudah jadi dikumpulkan sesuai jenisnya lalu dianginkan. Pada saatnya, lalu dibakar pada tungku dalam waktu tertentu, dengan bahan bakar kayu dan sekam padi. Setelah dingin lalu dikeluarkan dari tungku, kemudian dipasarkan.

NJENGGRIK adalah nama pedukuhan (bagian dari desa). Letaknya di gang-gang, di sisi kiri dan kanan jalan (sekarang) jalan Majen Panjaitan Malang. Tempat itu, sampai dengan tahun 1960-an merupakan sentra pembuatan grabah.

Namun keadaan berubah. Persawahan berubah fungsi menjadi perumahan, gedung-gedung (Universitas Brawijaya) dan bangunan lainnya. Bahan baku tanah lempung sulit diperoleh. Perajin grabah gulung tikar, kerajinan grabah sirna begitu saja *.

MALANG TEMPO DOELOE dalam CERITA (2) 

PULOSARI
(Trilaksito Saloedji)

Sampai dengan sekitar tahun 1973, PULOSARI dikenal sebagai tempat peresapan air.
Lokasinya berada di tempat yang berbatasan dengan Jalan Pandan di sebelah Utara, Jalan Kawi di sebelah Selatan, Jalan Pulosari di sebelah Barat, dan di sebelah Timur bangunan perumahan.

Tempat peresapan air itu berbentuk cekungan lebar bundar di sebelah atas. Mengerucut ke bawah agak landai. Pada dasar cekungan ada bangunan pengairan untuk  menampung air buangan.
Jadi fungsi peresapan air itu adalah menampung air buangan riol-riol dari Bareng, Pulosari dan sekitarnya. Air tersebut kemudian dialirkan ke sungai kecil (sekarang berada dibawah bangunan pertokoan Jalan Kawi), lalu mengalir lewat Bareng Pasar, menuju ke Selatan, ke sungai yang membelah Jalan Kasin dan Jalan Tanjung.

Cekungan Pulosari sangat disukai anak-anak sebagai tempat bermain. Dengan bermodal pelepah palem raja yang sudah luruh, anak-anak bermain luncur-luncuran, dari atas ke bawah. Demikian diulang tiada mengenal lelah.

Kemudian tempat peresapan air tersebut beralih fungsi menjadi Gelanggang Olah Raga. Akhirnya berubah fungsi lagi menjadi pertokoan Giant sampai sekarang.*

Renungan :
Di dalam Al-Qur’an, manusia berulangkali diingatkan : Jangan membuat kerusakan. Tetapi mereka selalu berdalih, bahkan kami memperbaiki.
Sebenarnya mereka tahu dan mengerti, perlunya tempat peresapan air agar tidak menimbulkan banjir. Tetapi hatinya telah diselimuti bujukan setan. Jalan apapun ditempuh mereka untuk mendapatkan keuntungan dunia *.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...