Jumat, 14 Juni 2013

CERITA HUMOR : TURUN RANJANG

TURUN RANJANG
(Trilaksito Saloedji)

Aku ditugaskan menghadiri acara Temu Lapang Gulma di Pabik Gula Cinta Manis Palembang. Bersama seorang Staf dari salah satu Pabrik Gula, serta seorang Staf dari Kantor Direksi. Tugas yang menyenangkan.

Kami bertiga sepakat bertemu di Bandara Juanda.  Ternyata Bapak Direktur Produksi juga akan hadir. Beliau bersama kami dalam perjalanan dari Surabaya ke Palembang sampai ke hotel.. Jadi kami bertiga ‘’terpaksa’’ mengikuti beliau menginap di hotel itu juga.
 
Malamnya ada acara Selamat Datang dan Hiburan. Kami bertemu dengan beberapa teman dari Jawa Timur. Mereka menginap di sebuah Losmen yang tidak jauh dari hotel itu. Losmen tersebut katanya baik dan bersih. Tentunya tarif kamar Losmen berbeda jauh dengan hotel tempat kami menginap.

Hari pertama, acara : Pembukaan dan Presentasi Makalah. Rencananya Dirprod kami hadir hanya sampai siang saja. Kemudian beliau kembali ke Surabaya.  Kami bertiga segera berunding untuk mengambil langkah-langkah demi efisiensi dan efektivitas keuangan kami. Keputusan kami, pada malam kedua harus ‘’turun ranjang’’ dari hotel terkenal di kota Palembang, pindah tidur di Losmen. Menempati sebuah kamar yang lapang bersama beberapa teman dari Jawa Timur.

Hari ketiga, persiapan untuk pulang pada sore harinya. Pagi itu kami menyewa  taksi berkeliling kota sampai ke Plaju dan Sungai Gerong. Melihat dan melewati jembatan sungai Musi. Menikmati makanan khas Palembang serta beli oleh-oleh untuk keluarga. Hitung-hitung kami tidak kecewa ‘’turun ranjang’’ demi efisiensi dan efektivitas keuangan kami sendiri, sehingga bisa senang dan dapat berbuat banyak. * 

CERITA HUMOR : GIGI PALSU

GIGI PALSU
(Trilaksito Saloedji)

Hari libur selalu kami gunakan untuk pergi. Kali ini aku bersama dua orang bujangan dan seorang yang sudah berkeluarga pergi ke daerah Timur. Menikmati perjalanan melewati sekitar hutan Baluran dan pemandangan di Watu Dodol serta debur ombak selat Bali.

Perjalanan kami teruskan ke Glenmore. Rencananya menuju ke rumah seorang temanku yang bekerja sebagai Sinder di sebuah Persil / Perkebunan kopi di lereng Gunung Raung.
Mata dimanjakan pemandangan baru yang menyenangkan. Jalan mulus berkelok-kelok. Di kiri dan kanan jalan ditanami kopi yang larikannya teratur, meskipun tanah berteras-teras. Bukit yang menghijau dan hawa yang sejuk diantarkan angin memasuki kendaraan jeep yang kami tumpangi.

Temanku bernama Suroto, aku panggil  ‘’Mas’’, karena umurnya memang lebih tua. Secara pribadi aku dan mas Roto serta keluarganya sudah akrab sejak dulu..Kami memasuki emplasemen Persil sekitar pukul sebelas siang. Suasananya teduh dengan pohon besar di halamannya. Mas Roto dan keluarganya merasa gembira mendapat kunjungan kehormatan. Karena memang jarang orang bertamu ke perumahan persil.

Hidangan berupa kopi panas dan hunggor (pohung/ketela goreng) sangat nikmat rasanya. Mengisi perut yang terasa lapar. Selama kami dan mas Roto berbincang dan saling bercerita, istrinya tidak menyertai. Rupanya dia sibuk di dapur, karena tadi begitu kami masuk rumah terdengar suara ayam ‘’keok-keok’’. Mas Roto berpesan agar kami jangan pulang sebelum makan siang.

Saat rasa lapar pada puncaknya, istrinya keluar dan mempersilakan makan siang. Alhamdulillah. Hidangan nasi dengan lauk sayur asem, urap-urap sayuran, ikan asin, ayam goreng, sambal dan kerupuk. Wah nikmat rasanya. Tidak ada yang berbicara. Semua sibuk dengan nasi dan lauknya.

Tiba-tiba terdengar temanku yang sudah berkeluarga ‘’mengaduh’’dan menghentikan makannya sejenak. Meskipun suaranya lirih, tapi yang berada di ruang makan mendengar semua. Mas Roto bertanya : ‘’Kenapa Mas ?’’ Terlihat yang ditanya tersenyum sambil memegang sebuah benda putih. Ternyata benda itu adalah …….. gigi palsu yang tanggal karena menggigit ayam goreng. *       

CERITA HUMOR : LINTAH DARAT

LINTAH DARAT
(Trilaksito Saloedji)

Setelah berkendara mobil sejauh 35 km sampailah aku di suatu desa/padukuhan Ayer Dingin. Letaknya di sebelah Utara Gunung Argopura. Tempatnya sepi, berhawa sejuk. Aku berhenti di sebuah warung makan. Menikmati hidangan yang tersaji, sambil berbincang dengan pemilik warung dan orang-orang yang sedang berada di warung itu. Yang menarik dari keterangan mereka adalah ‘’cerita’’ tentang lapangan terbang di lembah gunung Argopura yang dibangun Jepang sebagai pangkalan Angkatan Udaranya. 

Daerah itu sekarang menjadi hamparan savana dengan ilalangnya dan tanaman perdu lainnya. Di ketinggian tempat itu bisa ditemui tanaman bunga edelweys tumbuh dengan liar. Bekas lapangan terbang itu bisa ditempuh dari Ayer Dingin dalam waktu sehari penuh. Tentunya dengan penunjuk jalan yang mengetahui tempat itu.

Suatu hari aku bercerita kepada Pak Karya dan Pak Bambang rekan sejawatku. Kemudian kami bertiga sepakat untuk pergi bersama. Meskipun tak sampai tujuan tidak mengapa, pokok sudah tahu arahnya dan beratnya tantangan. Ketika kami sedang berbincang, datanglah Pak Sihab menyatakan ingin ikut. Sebenarnya kami keberatan, karena menyangsikan kekuatannya. Mengingat tubuhnya yang tambun dan jarang berolah raga. Namun dia tetap ngotot ingin ikut.

Pada hari Minggu, pagi-pagi kami naik mobil ke Ayer Dingin. Mobil diparkir di dekat warung. Kami mengambil bekal yang dipesan di warung itu. Seorang lelaki setengah umur membawa sabit besar, telah lama menunggu untuk menyertai kami sebagai penunjuk jalan.

Di pagi yang dingin perjalanan diawali dari warung ini. Melewati pinggir perkebunan kopi. Jalan tanah ditumbuhi rumput dan tanaman lainnya. Lebar jalan makin mengerucut. Embun masih betah menempel di dedaunan. Perjalanan belum setengah jam, Pak Sihab sudah mulai tidak bisa mengikuti irama langkah kami. Napasnya sudah ngos-ngosan. Jalan makin menyempit, kedua tangan kami tidak hentinya menyingkirkan ranting-ranting tanaman dan sulur tanaman yang menghalang jalan.

Tiba-tiba terdengar kegaduhan dari belakang kami. Kami menoleh. Pak Sihab yang berada di belakang sendiri, berteriak ketakutan. Tangannya sibuk menarik-narik sesuatu dari lengannya. Kemudian terlihat tangannya juga beralih menggamit sesuatu dari lehernya. Kami segera menghampiri.

Beberapa ‘’lintah darat’’ yang berwarna abu-abu kehitaman menempel di beberapa bagian tubuhnya. Penunjuk jalan juga ikut mendekati Pak Sihab. Setelah mengetahui masalahnya, maka dia menuangkan cairan dari botol yang dibawanya ke telapak tangannya. Lalu diusapkan
pada bagian tubuh yang ditempeli lintah. Binatang tak tahu diuntung itu menyusut dan tanggal dari tubuh Pak Sihab.

Kemudian terdengar keterangan sang Penunjuk jalan : ‘’Binatang itu pengisap darah, darah kita bisa habis disedotnya’’. Pak Sihab tampak bergidik dan berkata : ‘’Biarlah saya kembali dan menunggu kalian di warung saja’’.*   

CERITA HUMOR : PALEM RAJA

PALEM RAJA
(Trilaksito Saloedji)

Di pinggir jalan muka rumah tetanggaku, ada tiga batang tanaman palem raja (Roystoner Regia). Katanya, dia sendiri yang menanam sewaktu mulai menempati rumah barunya. Sekarang tanaman itu sudah besar dan  tinggi. Lebih tinggi dari bubung rumahnya. Namun sayang, satu persatu daunnya menguning, luruh. Akhirnya pucuk tanaman itu mati. Ternyata tanaman tersebut diserang hama pucuk tanaman. Mengingat sekarang bentuk palem raja tersebut hanya seperti tiang pancang yang berdiameter sekitar setengah meter, maka tetangga tersebut berniat menebangnya.

Suatu hari dia didatangi pegawai berseragam dinas. Setelah memperkenalkan diri, pegawai tersebut bertanya kepada tetanggaku :  - ‘’Palem raja ini kok tidak berdaun Pak ?’’
- ‘’Rupanya kena serangan hama pucuk tanaman Pak. Rencananya akan saya tebang saja’’
- ‘’Sebaiknya Bapak mengirim surat permintaan ijin untuk menebang tanaman itu ke Pemda. Setelah surat ijinnya keluar, pohon tersebut baru bisa ditebang. Yang menebang Pemda, Bapak tinggal membayar ongkosnya’’
Dalam hati dia menggerutu atas rayuan pegawai tersebut. Maka katanya : ‘’Bagaimana kalau begini …….. !’’ Karena tidak sabar menunggu kelanjutan kalimatnya, maka Pegawai tersebut bertanya : ‘’Maksud Bapak ?’’
Temanku  berkata : ‘’…..Bapak yang menulis surat ke Pemda…..’’,  Pegawai tersebut bertanya ‘’Lalu…?’’  - : ’’Bapak yang menyampaikan ke Pemda, setelah ijin keluar bisa ditebang Pemda.
Ongkosnya minta kepada Pemda juga’’. Pegawai tersebut tersenyum kecut.*
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...