Minggu, 28 Juli 2013

CERITA HUMOR : OMNIVORA

OMNIVORA
(Trilaksito Saloedji)

Sore itu aku bisa duduk santai di teras rumah sambil membaca surat kabar. Istriku menyediakan secangkir teh manis dengan pisang goreng kesukaanku. Lalu datanglah anakku lelaki (kelas 3 SD). Tidak lama kemudian istri dan anakku yang bungsu bergabung di teras itu. Terjadilah dialog ringan yang mengasyikkan.
- ‘’Yah, ayah, sekarang aku sudah tahu’’, kata anakku lelaki sambil menyandarkan badannya dengan manja  ke lenganku.
- ‘’Tahu tentang apa ?’’, tanyaku lalu menarik tubuhnya ke pangkuanku.
- ‘’Ada tiga golongan binatang dilihat dari jenis makanannya’’.
- ‘’Coba sebutkan !’’
Anakku membalikkan badannya lalu menyebutkan :
- ‘’Herbivora adalah golongan binatang yang makan rumput dan tumbuh-tumbuhan lainnya’’
- ‘’Yang kedua ?’’, tanyaku.
- ‘’Karnivora adalah golongan binatang yang makan daging dan binatang lainnya’’
- ‘’Bagus, lalu……’’. Aku belum sampai menyelesaikan  kalimatku terdengar pertanyaan anakku bungsu yang baru masuk Taman Kanak-kanak.
- ‘’Yah, Yah, tumbuh-tumbuhan itu apa sih Yah ?’’
Aku tersenyum dan menjelaskan : - ‘’Contoh tumbuh-tumbuhan adalah rumput-rumputan, sayuran, pohon-pohon……..’’. Dipotong lagi sama si kecil : - ‘’Sayulan kangkung, bayem….ya Yah’’. Aku dan istriku tertawa melihat kelucuannya.
- ‘’Betul sayang, sekarang coba Kakak sebutkan golongan binatang yang ketiga !’’
Anakku lelaki lalu berkata : ‘’Yang ketiga adalah Omnivora, yaitu binatang yang makan segalanya, ya rumput-rumputan, tumbuh-tumbuhan dan daging’’
- ‘’Bagus !’’, aku memujinya sambil mengelus rambut kepalanya. Si kecil lalu berkata :
- ‘’Yah, Yah, Ayah, Bunda, Kakak, Adik, semua makan sayulan, makan kangkung, makan bayem, makan woltel, makan ayam, makan daging …..’’. Ibunya lalu memotong sambil tersenyum :
- ‘’Ya itu namanya ………Omnivora juga !’’
Kami bertiga tertawa, si kecil ikut tersenyum. Aku yakin si bungsu tidak mengerti.* 

CERITA HUMOR : RUANG OBSERVASI

RUANG OBSERVASI
(Trilaksito Saloedji)

Temanku bercerita. Pagi hari itu dadaku sebelah kiri terasa nyeri. Aku segera ke rumah sakit. Dokter klinik yang memeriksa segera mengirimkan aku untuk observasi. Perawat mengantarkan ke ruang ICCU.

Pakaianku diganti dengan pakaian rumah sakit. Ruangannya ber AC. Banyak alat-alat kedokteran di dalam ruang itu. Pasiennya bukan aku saja. Aku tidur di bed. Seorang perawat lalu memasang alat-alat kedokteran ke tubuhku. Berupa kabel-kabel yang ujungnya terasa seperti karet yang menggigit ke kulit, antara lain di dada, kaki dan tangan. Alat lain dipasangkan ke lengan kanan bagian atas. Kesemuanya dihubungkan ke alat kontrol yang bisa menunjukkan angka, grafik atau lampu.

Ketika seorang Dokter Spesialis datang memeriksa, aku bertanya: ‘’ Dok, bagaimana keadaan saya’’. Jawabnya : ‘’Irama jantung Bapak tidak normal, saya harap Bapak tenang-tenang sampai observasi ini selesai’’.  Mau tenang bagaimana. Terkungkung, seperti terpenjara.

Beberapa suara keluhan dan kepasrahan terdengar dari mulut-mulut pasien di ruang yang sama. Ada suara seorang pasien yang sudah kelewat batas. Menyumpah serapah dengan kata-kata yang tidak senonoh. Seorang perawat berusaha menenangkan pasien tersebut. Namun bukannya mereda. Pasien tersebut makin kesetanan, berteriak-teriak. Kemudian keadaan tiba-tiba menjadi senyap.

Aku mendengar langkah beberapa perawat menuju arah pasien yang berteiak-teriak tadi. Terdengar ada yang menarik kain penyekat. Ketika seorang perawat lewat, aku bertanya :  ‘’Sekarang pukul berapa suster ?’’ Katanya : ‘’Pukul sembilan Pak’’. Masya Allah aku di ruang ini sudah dua belas jam. Mata tetap terpicing.

Sayup-sayup terdengar ada orang tertawa dengan suara rendah. Lama-lama suara itu makin keras dan gaduh. Tertawa seperti merasakan geli yang tidak berkesudahan. Kalau begitu aku sempat tertidur. Terjaga karena suara tawa yang tiada hentinya. Ternyata suara tawa itu juga dari seorang pasien di ruang ini. Tiba-tiba suara tawa tersebut hilang seperti ditelan malam. Beberapa waktu kemudian terdengar ada yang mendorong sesuatu keluar ruangan ini. Diiringi suara tangis yang tertahan.  

Suara adzan pagi memanggil orang untuk shalat malam. Lalu aku bertanya kepada pasien di sebelah kanan tempat tidurku : ‘’Mengapa Bapak tidak tidur ?’’ Jawabnya : ‘’ Tidak bisa’’
Tanpa kutanya dia berkata : ‘’Apalagi ada kejadian tadi malam’’
‘’Kejadian apa ?’’, aku tidak mengerti maksudnya.
‘’Tadi malam kan ada dua orang yang meninggal, apa Bapak tidak mendengar ?’’.

Oh mungkin pasien yang menyumpah-nyumpah dan pasien yang tertawa heboh itu yang meninggal.  Aku bergidik  Malaikat pencabut nyawa semalam telah dua kali memasuki ruang ICCU ini.*

CERITA HUMOR : KEMANTEN BARU

KEMANTEN BARU
(Trilaksito Saloedji)

Seorang teman kami, Rusdi sudah bertekad melepas masa bujangnya. Menikah dengan gadis, mantan pacarnya dari Jawa Tengah. Kemudian mendapat sebuah rumah tinggal tidak jauh dari Mess Karyawan bujangan.

Penampilan Rusdi sekarang banyak berubah. Kalau dulu rambutnya acak-acakan, sekarang dipotong pendek, disalut pomade dan disisir rapi. Memakai pakaian dengan dandanan yang layak. Dan senyumnya selalu mengambang di kedua bibirnya yang tebal. Apalagi kalau sedang keluar berduaan dengan istrinya. Kelihatan sangat mesra. Nempel terus seperti perangko.

Gosip di antara teman bujangan, bagaimana mungkin Rusdi yang hitam pendek itu bisa dapat istri yang cantik molek. Di kala  pembicaraan melebar tidak ada ujung pangkalnya, ada yang nyeletuk : ‘’Mungkin sudah takdir Allah untuk memperbaiki keturunan dari garis Rusdi’’. Ada yang menimpali : ‘’Atau memperjelek keturunan dari garis istrinya’’. Yang mendengar spontan tertawa.

Setelah tiga bulan lebih, keadaan Rusdi berubah. Roman mukanya ditekuk, senyumnya tidak lagi menghiasi bibirnya. Apa pasalnya? Ada teman yang bertanya kapadanya. Tetapi tidak ada jawaban dari mulutnya. Yang sering kami dengar adalah keributan demi keributan di rumah kemanten baru itu.

Puncak perang dingin terjadi pada malam Minggu. Ketika itu kami berada di teras Balai Pertemuan yang menghadap jalan raya jurusan Banyuwangi - Surabaya. Kami melihat istri Rusdi menenteng tas pakaian menuju pinggir jalan raya. Diikuti suaminya, yang  terdengar tiada hentinya merayu agar istrinya jangan pergi. Rupanya Rusdi tidak dapat melunakkan istrinya yang keras kepala. Sekarang mereka berdua sudah berdiri di pinggir jalan raya. Mungkin menunggu kendaraan.

Kami kasihan melihat keadaan Rusdi, . Dua orang di antara kami mendekati suami istri itu.
- ‘’Malam-malam begini mau kemana Rus ?’’,tanyaku.
- ‘’Istri saya mau pulang, saya suruh tunda dulu tidak mau’’. Kami menengarai  percekcokan sudah sampai titik kulminasinya. Istrinya diam saja. Di keremangan lampu jalan yang temaram perempuan muda itu kelihatan masih menangis.
- ‘’Lalu Mbak mau naik apa ?’’ Istrinya diam, suaminya yang menjawab :
- ‘’Menunggu Bis ‘Saya Antar Anda’ ke Surabaya’’.
Mendengar keterangan Rusdi, maka ‘akal bulus’ kami terapkan :
- ‘’Lho bis itu barusan lewat. Sekitar sepuluh menit yang lalu’’.
Rusdi menangkap peluang, lalu berkata dengan nada merayu istrinya :
- ‘’Diajeng sudah mendengar sendiri, bahwa satu-satunya bis malam ke Surabaya sudah lewat. Ayo kembali. Nanti kalau saya sudah mendapat ijin saya antar’’.
- ‘’Janji ?!’’, sambut istrinya. – ‘’Betul saya berjanji’’
Akhirnya kedua suami istri itu kembali ke rumahnya.

Beberapa hari kemudian Rusdi meyatakan terima kasih atas ‘campur tangan kami’, sehingga istrinya mau balik ke rumah. Dia juga menceritakan bahwa pada hari Minggu istrinya sakit. Lalu pada hari Senin pagi diantarkan ke Puskesmas. Setelah diperiksa Dokter diketahui bahwa isterinya …… hamil.
Mungkin karena bawaan kehamilannya maka perempuan itu uring-uringan saja kepada suaminya

CERITA HUMOR : HUMOR DI HOTEL BERBINTANG

HUMOR DI HOTEL BERBINTANG
(Trilaksito Saloedji)

Waktu itu hotel berbintang dengan bangunannya yang menjulang tinggi di Pulau Bali adalah Bali Beach Hotel. Kemegahannya patut dibanggakan.
Pada akhir tahun, kami karyawan pimpinan mendapat kesempatan untuk berlibur dan menginap di hotel tersebut.

Banyak cerita menggelikan yang ku dengar dari teman-teman. Seorang teman ke kamar mandi, tidak menyadari kalau memutar kran air panas. Kemudian betapa terkejutnya mendapatkan semprotan air panas.  Teman yang lain mencari gayung air tidak ada. Sehingga tidak jadi be-a-be dan mandi.

Suatu kejadian yang benar-benar menggelikan yaitu ketika akan check out. Seorang teman disodori nota pembayaran. Setelah dibaca, dia menggerutu karena merasa tidak mengambil minuman dingin dari kulkas. Hampir bersitegang. Untung istrinya segera mengingatkan bahwa kedua anak remajanya telah menguras isi kulkas ketika ayah bundanya sedang tidur atau keluar kamar.

Sebagian besar di antara kami sudah di luar hotel, menunggu bis untuk pulang. Tiba-tiba terdengar suara benturan keras : ‘’Braaak’’. Kami menoleh asal suara. Masyaallah ada seorang teman  di dalam lobby yang berdiri kesakitan ………karena menabrak dinding kaca tembus pandang. Mungkin karena terburu-buru dia tidak mengira kalau ada pembatas dinding kaca tebal, antara lobby dengan teman-temannya yang sudah berkumpul (di luar).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...